Diruangan
yang cukup luas,akupun duduk dikursi yang tergoyang,sambil mengerjakan tugas
perkuliahan salah satunya ilmu hadits,dengan ditemani suara syair-syair lagu
yang sangat mengasikan ditelingaku.”Alhamdulillah...Selsai juga aku
menyelesaikan nya”,ungkapku dengan penuh lelah, dan aku pun tertidur di shofa
yang sangat nyaman yang terbuat dari
serbak-serbuk China.Pantulan sinar matahari mengenai mataku hinggaku terbangun
dari mimpiku yang penuh dengan hayalan-hayalan yang sangat mengasikan.Seperti
biasanya aku pun bersiap-siap untuk pergi ke kampus.kujejaki hariku dengan
H2N..(hadapi hayati dan Nikmati)
Pikiranku
pun tertuju kepada tugas yang diberikan oleh Dosenku yang baik dan
profesional,beliau adalah Bu Anggit yang senantiasa mengajarkanku menuju hujjah
kaca mata hadist.Disinilah..Jiwa dan ragaku terbawakan untuk mengetahui ulumul
hadist Menuju lintasan para periwayat hadist.
Ulumul
hadist adalah Ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang cara-cara persambungan
hadist sampai kepada Rasulullah SAW.dari segi hal ikhwal para
perawinya,kedhobitan,keadilan, dan dari persambung tidaknya sanad.
Kutembus
mataku ini dengan hujjah Kaca Mata hadist Yang ditemani oleh panduan ulumul
hadist, itu adalah salah satu ilmu yang membuatku berfikir dan Maju dan
hati-hati akan penghujahan hadist.
Haripun
berganti,tepatnya hari Senin jam ke tiga ulumul hadistpun mulai melambaikan
tangannya dan menghampiriku.Seperti biasa aku duduk dikursi yang paling
depan,ini adalah hari yang membuatku bersemangat untuk mendapatkan ilmu-dan
pelajaran.Akupun duduk untuk mulai menerima ilmu ulumul hadist.
Bu
anggitpun mulai memberikan ilmu kepada kita.Jika dilihat dari kacamata ulumul
hadist dalam suatu cara menerima dan menyampaikan ilmu memiliki
syarat-syaratnya diantaranya saya sebagai seorang yang mengambil atau mempelajari
sebuah ilmu dari Bu Anggit,mempunyai sifat ad-dhabth yakni memiliki hafalan
yang kuat atau mempunyai dokumen yang valid,berakal,dan tamyiz.Dan langkah
untuk penerimaan ilmu dari Bu Anggit dengan cara As-Sama yaitu mendengarkan
langsung dari Bu Anggit,Jika aku sebagai murid meriwayatkan atau memberitahukan
kepada yang lainnya maka seorang murid hendaknya berkata sami’tu/aku mendengar
atau hadastani/beliau bercerita kepadaku.jika dalam periwayat bahasa yang bisa digunakan
adalah Sami’tu,Sami’na,Hadastani,Hadasana,Akhbarani,dll.
Selanjutknya
Al-ardh,(membaca dihadapan Bu Anggit) ini adalah cara dibacakan dihadapan
beliau dan aku mendengar atau Anba’nani,tahap ketiga ijazah yaitu Bu Anggit
memberi izin bagi muridnya untuk meriwayatkan ilmu-ilmu dari beliau.Dikatakan
murid telah mendapatkan ijazah apabila seorang syekh berkata kepada salah
seorang muridnya:Aku mengijinkan kamu untuk meriwayatkan hadist-hadistku atau
kitab-kitabku,tahap ke empat munawalah yang diiringi oleh ijazah dan tidak
diiringi oleh ijazah,tahap ke lima mukatabah yaitu seorang syekh menuliskan
hadist yang pernah didengarnya untuk orang yang hadir dihadapannya atau untuk
orang yang tidak hadir,tahap ke enam Al I’lam,dan terakhir para ulama perawi
hadist seperti Abu hurairah,abdullah ibn umar,Aisyah Ummul Mu’minin dll.
Dan
masih banyak ilmu-ilmu ulumul hadist lainnya yang mampu untuk direarisasikan
dalam kehidupan Nyata.
Terakhir
...Ini adalah contoh perawi hadist yang aku kagumi,beliau adalah Imam bukhari..
1.
Imam Bukhari
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin
Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Akan tetapi beliau lebih
terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, karena beliau lahir di kota Bukhara,
Turkistan. Sewaktu kecil Al Imam Al Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu
malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam yang mengatakan,
“Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al Imam Al Bukhari, pent),
sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena
seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa
Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.
Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai
menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad,
Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam. Guru-guru beliau banyak sekali
jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil,
Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan
bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman
bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin
Al Muhabbir, Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam,
Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman,
‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al Imam Ahmad bin
Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.
Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka
yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun
kitab Shahih Muslim.
Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya.
Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga
hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau
berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad
(rangkaian perawi-perawi)-nya”.
Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al
Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau
masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari,
pent.)?” Beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang
saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”.
Anugerah Allah kepada Al Imam Al Bukhari berupa reputasi di bidang hadits telah
mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang hidup
sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) terhadap beliau. Berikut ini
adalah sederet pujian (rekomendasi) termaksud:
Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Saya mendengar Ibrahim bin
Khalid Al Marwazi berkata, “Saya melihat Abu Ammar Al Husein bin Harits memuji
Abu Abdillah Al Bukhari, lalu beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat orang
seperti dia. Seolah-olah dia diciptakan oleh Allah hanya untuk hadits”.
Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Saya
tidak pernah meliahat di kolong langit seseorang yang lebih mengetahui dan
lebih kuat hafalannya tentang hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam
dari pada Muhammad bin Ismail (Al Bukhari).”Muhammad bin Abi Hatim berkata, “
Saya mendengar Abu Abdillah (Al Imam Al Bukhari) berkata, “Para sahabat ‘Amr
bin ‘Ali Al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status
(kedudukan) sebuah hadits. Saya katakan kepada mereka, “Saya tidak mengetahui
status (kedudukan) hadits tersebut”. Mereka jadi gembira dengan sebab mendengar
ucapanku, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceriterakan
peristiwa itu kepada ‘Amr. ‘Amr berkata kepada mereka, “Hadits yang status
(kedudukannya) tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail bukanlah hadits”.
Al Imam Al Bukhari mempunyai karya besar di bidang hadits
yaitu kitab beliau yang diberi judul Al Jami’ atau disebut juga Ash-Shahih atau
Shahih Al Bukhari. Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini
merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran.
Hubungannya dengan kitab tersebut, ada seorang ulama besar
ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al Marwazi menuturkan, “Suatu ketika saya tertidur
pada sebuah tempat (dekat Ka’bah –ed) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim.
Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau
berkata kepada saya, “Hai Abu Zaid, sampai kapan engaku mempelajari kitab
Asy-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku? Saya berkata, “Wahai
Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?” Rasulullah menjawab, “
Kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail”. Karya Al Imam Al Bukhari yang lain yang
terkenal adalah kita At-Tarikh yang berisi tentang hal-ihwal para sahabat dan
tabi’in serta ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) mereka. Di bidang akhlak belau
menyusun kitab Al Adab Al Mufrad. Dan di bidang akidah beliau menyusun kitab
Khalqu Af’aal Al Ibaad.
Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi
lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan
para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan
teladan.
Abu Bakar bin Munir berkata, “Saya mendengar Abu Abdillah Al
Bukhari berkata, “Saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak
dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (menggunjing orang lain).”
Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Bashrah
mengatakan, “Tidak pernah kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin
Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan keshalihan”.
Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri
semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran
Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad
bin Ismail.”
Al Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu
‘Alaihi Wasallam di dalam tidur saya”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam
bertanya kepada saya, “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “Hendak
menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al Bukhari”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi
Wasallam berkata, “Sampaikan salamku kepadanya!”
Al Imam Alst,diterim a dan tid\tolaknya haadist Ban kuantitas hadiukhari wafat
pada malam Idul Fithri tahun 256 H. ketika beliau mencapai usia enam puluh dua
tahun. Jenazah beliau dikuburkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand.
Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada Al Imam Al Bukhari.
Sekian sahabat onlineku semua, terimakasih semoga bisa bermanfaat Jangan lupa bahagia dan tersenyum ya Sahabatku.
ig : Syifa__2021
tiktok: konselormudasyifa
youtube : konselormudasyifa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar